Dia Menatap Wajahku

17 Nov

Aku adalah seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi negeri. Kehidupan kampus sangat kunikmati, apalagi kehidupan ini membuatku jauh lebih bebas.
Entah mengapa, sebenarnya kebebasan itu menurutku semu, tapi sangat kunikmati.
Pembelajaranku lebih banyak di luar bangku kuliah, akibatnya pendidikan yang aku tempuh menjadi terbengkalai, tapi itu harga yang harus dibayar.

Dari semua kehidupan yang telah aku jalani, aku akan menceritakan sebuah cukilan cerita kehidupanku.

Ini adalah tahun kedua aku menjalani kuliah. Menuju ke kampus dengan hati gembira, dan cuma berharap bertemu dengan teman-teman dan mengobrol sepuasnya. Apa sih yang bisa dibanggakan? Indeks prestasi yang bagus juga tidak dimiliki.

Perkenalan dengannya dimulai pada saat dikenalkan oleh kawan di kantin kampus. Dari awal aku sudah tertarik dengan dia.
Sita…
begitu dia mengenalkan namanya padaku

Hubungan selanjutnya dilanjutkan melalui sms dan telepon.

sampai suatu saat, aku mengajaknya menonton bioskop, sesuatu yang basi dilakukan oleh seorang yang sedang kasmaran, hehehe.
Film yang kami tonton adalah film Indonesia yang tahu sendiri bagaimana alur ceritanya, tapi itu tidak penting.

Sayangnya, aku masih belum berani mengungkapkannya.

Suatu saat, Sita mengajak ke sebuah acara yang diadakan oleh kampus, acaranya cukup menarik. Sayang di tengah acara, tiba-tiba hujan lebat, dan acarapun menjadi terhenti.

Hidup tiba-tiba menjadi seperti berhenti berputar. Hujan dan angin menjadi seperti gerakan lambat.

Kami berdiri berdua, berteduh di sebuah emperan toko.

Saat itu, aku melihat seberkas cahaya menerobos gelap, dari mata Sita.

Apa ini saatnya? atau benarkah dia cinta aku? batin dan pikiranku masih tidak percaya dengan keadaan ini.

tiba-tiba waktu berlalu, dan kami beranjak pulang. Aku mengantarkannya sampai ke rumahnya.

di perjalanan pulang, hujan masih rintik-rintik.
Bukan dingin yang aku rasakan, tapi kesepian…..

– artha nugraha jonar
http://www.arthanugraha.com

Advertisements

Semangkuk Bakmie Panas

12 Jul


Pada malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tdk membawa uang. Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dania mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tidak mempunyai uang.

Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya,
lalu berkata “Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?”
“Ya, tetapi, aku tidak membawa uang” jawab Ana dengan malu-malu.
“Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu” jawab si pemilik kedai.
“Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu”.
Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang.
“Ada apa nona?” Tanya si pemilik kedai.
“Tidak apa-apa” aku hanya terharu jawab Ana sambil mengeringkan air matanya.
“Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi!, tetapi, ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah”
“Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri” katanya kepada pemilik kedai.
Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang dan berkata
“Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya”

Ana, terhenyak mendengar hal tersebut. “Mengapa aku tidak berpikir tentang hal tersebut? Untuk semangkuk bakmi dari orang yg baru kukenal, aku begitu berterima kasih, tetapi kepada ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya. Ana, segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yang harus diucapkan kepada ibunya. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah “Ana kau sudah pulang, cepat masuklah, aku telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau tidak memakannya sekarang”. Pada saat itu Ana tidak dapat menahan tangisnya dan ia menangis di hadapan ibunya.

Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada org lain di sekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita. Tetapi kepada orang yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita harus berterima kasih kepada mereka seumur hidup Kita.

BAGAIMANAPUN KITA TIDAK BOLEH MELUPAKAN JASA ORANG TUA KITA.

SERINGKALI KITA MENGANGGAP PENGORBANAN MEREKA MERUPAKAN SUATU PROSES ALAMI YANG BIASA SAJA; TETAPI KASIH DAN KEPEDULIAN ORANG TUA KITA ADALAH HADIAH PALING BERHARGA YANG DIBERIKAN KEPADA KITA SEJAK KITA LAHIR.

PIKIRKANLAH HAL ITU. APAKAH KITA MAU MENGHARGAI PENGORBANAN TANPA SYARAT DARI ORANG TUA KITA? HAI ANAK-ANAK, TAATILAH ORANG TUAMU DALAM SEGALA HAL, KARENA ITULAH YANG INDAH DIDALAM TUHAN.

Lampu Merah

11 Jul

Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala hijau.

Mike segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia tahu perempatan di situ cukup padat sehingga lampu merah biasanya menyala cukup lama. Kebetulan jalan di depannya agak lenggang.

Lampu berganti kuning. Hati Mike berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah menyala.

Mike bimbang, haruskah ia berhenti atau terus saja. “Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak,” pikirnya sambil terus melaju.

Prit!!!
Continue reading

Tidak yang Seperti Aku Harapkan (bagian 1)

10 Jul

Hari ini, seperti biasanya di musim hujan. Basah dan basah. Air menggenang dan sedikit mengganggu di sudut jalan, karena tidak menemukan kebebasannya menuju laut lepas.
Sore sudah tiba, saatnya berkemas pulang.
Perjalanan dari kantor menuju ke rumah, sepertinya masih cepat jika saya menuju kuala lumpur. Dua jam adalah waktu tempuh normal jika tidak mendapat bumbu macet.
Hari ini saya harus segera bergegas untuk segera tiba di rumah. Saya harus menyiapkan segalanya untuk hari besok. Karena besok adalah besok, dan hari besok menjadi langkah yang menentukan untuk menuju ke arah mana kaki akan ditapakkan.

bersambung

Definisi Alternatif

10 Jul

Alternatif adalah kata sifat yang artinya, jika nasi yang telah menjadi bubur, mari dijadikan bubur ayam yang lezat

Kepiting Dalam Baskom

10 Jul

Saat menjelang malam, di sebuah tepian pantai, terlihat para nelayan sedang sibuk menangkap kepiting yg biasanya keluar dari sarang ketika matahari terbenam. Kepiting itu tampak berkeliaran & berlarian menyambut ombak.

Para nelayan sangat menikmati buruan mereka. Setelah tertangkap, binatang yg hidup di 2 alam itu segera dimasukkan ke dalam baskom. Uniknya, baskom tersebut tidak perlu diberi penutup untuk mencegah kepiting meloloskan diri.

Di dalam baskom yg berisi puluhan kepiting, terlihat kepiting yg bergerak-gerak terus, seperti hendak mencoba meloloskan diri dari baskom. Capitnya digunakan sekuat tenaga untuk mencari pegangan demi naik ke atas baskom agar bisa keluar. Satu sama lain melakukan hal yg sama. Saling dorong & saling tarik membuat kepiting itu justru tak bisa naik ke atas. Continue reading

Arloji Yang Hilang

10 Jul

ada seorang tukang kayu. Suatu saat ketika sedang bekerja, secara tak disengaja arlojinya terjatuh dan terbenam di antara tingginya tumpukan serbuk kayu.

Arloji itu adalah sebuah hadiah dan telah dipakainya cukup lama. Ia amat mencintai arloji tersebut. Karenanya ia berusaha sedapat mungkin untuk menemukan kembali arlojinya. Sambil mengeluh mempersalahkan keteledoran diri sendiri si tukang kayu itu membongkar tumpukan serbuk yang tinggi itu.

Teman-teman pekerja yang lain juga turut membantu mencarinya. Namun sia-sia saja. Arloji kesayangan itu tetap tak ditemukan.

Tibalah saat makan siang. Para pekerja serta pemilik arloji tersebut dengan semangat yang lesu meninggalkan bengkel kayu tersebut.

Saat itu seorang anak yang sejak tadi memperhatikan mereka mencari arloji itu, datang mendekati tumpukan serbuk kayu tersebut. Ia menjongkok dan mencari. Tak berapa lama berselang ia telah menemukan kembali arloji kesayangan si tukang kayu tersebut.

Tentu si tukang kayu itu amat gembira. Namun ia juga heran, karena sebelumnya banyak orang telah membongkar tumpukan serbuk namun sia-sia. Tapi anak ini cuma seorang diri saja, dan berhasil menemukan arloji itu.

“bagaimana caranya engkau mencari arloji ini ?”, tanya si tukang kayu.

“saya hanya duduk secara tenang di lantai. Dalam keheningan itu saya bisa mendengar bunyi tik-tak, tik-tak. Dengan itu saya tahu di mana arloji itu berada”, jawab anak itu.

keheningan adalah pekerjaan rumah yang paling sulit diselesaikan selama hidup. Sering secara tidak sadar kita terjerumus dalam seribu satu macam ‘kesibukan dan kegaduhan’.

Ada baiknya kita menenangkan diri kita terlebih dahulu sebelum mulai melangkah menghadapi setiap permasalahan.

“segenggam ketenangan lebih baik dari pada dua genggam jerih payah dan usaha menjaring angin.”